Seminar Peradaban Hidayatullah Kukar Dorong Penguatan Historiografi dan Nilai Luhur Bangsa
- account_circle Kaltim News
- calendar_month Sabtu, 10 Okt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TENGGARONG — Historiografi dan penanaman nilai luhur menjadi pijakan penting dalam membangun peradaban masa depan. Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Peradaban Bangsa bertajuk “Menggali Akar Sejarah Peradaban Menuju Kebangkitan Bangsa” yang diselenggarakan DPD Hidayatullah Kutai Kartanegara di Pendopo Wakil Bupati Kutai Kartanegara, Jumat (9/10/2026).
Akademisi Fakultas Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Dr. Mubarok, yang hadir sebagai salah satu pembicara, menekankan bahwa pembangunan peradaban membutuhkan proses panjang yang melibatkan pendidikan, pewarisan nilai, adaptasi, dan kepemimpinan.
“Peradaban bangsa tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang sejarah, pewarisan nilai, pendidikan, adaptasi, dan kepemimpinan yang tepat,” tegasnya.
Menurut Mubarok, penelusuran sejarah Nusantara dan Kutai diperlukan untuk memperkuat identitas kolektif di tengah arus globalisasi. Dengan merujuk pada pemikiran sosiokultural Ibnu Khaldun dan sejarah Islam, ia menempatkan agama, moralitas, serta solidaritas sosial sebagai unsur penting dalam membangun masyarakat yang tangguh.
Upaya menggali sejarah, lanjutnya, tidak cukup berhenti pada pengenalan peristiwa masa lalu. Sejarah perlu ditafsirkan untuk menemukan nilai yang relevan dengan persoalan masa kini dan kebutuhan generasi mendatang.
“Rekonstruksi nilai peradaban menuntut kita menggali pelajaran bermakna dari sejarah Islam, Nusantara, dan budaya lokal,” paparnya.
Dalam konteks tersebut, pendidikan memegang peran strategis untuk mengubah pengetahuan sejarah menjadi karakter dan perilaku. Pendekatan kearifan lokal, pembelajaran berbasis proyek, serta dialog kritis dapat menjadi sarana menanamkan persaudaraan, keadilan, dan keberanian kepada peserta didik.
“Pendidikan adalah ruang strategis untuk mentransformasikan sejarah menjadi karakter nyata, bukan sekadar hafalan,” ujarnya.
Adaptasi dan Modernisasi
Dalam kesempatan itu Mubarok juga mengingatkan bahwa modernisasi dan perkembangan teknologi digital menuntut masyarakat mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Nilai kejujuran diperlukan untuk menghadapi disinformasi, sedangkan solidaritas sosial penting untuk menjaga hubungan antarmanusia di tengah kecenderungan individualisme.
“Kebangkitan peradaban bukan sekadar mengulang kejayaan masa lalu,” katanya, seraya menekankan pentingnya “membangun kemampuan baru dengan belajar dari sejarah”.
Sebagai arah tindak lanjut, Mubarok menguraikan lima agenda strategis, yakni penguatan pendidikan untuk membentuk manusia berilmu dan berkarakter, pelestarian kebudayaan, pengembangan ilmu pengetahuan melalui riset dan inovasi, pemantapan kemandirian ekonomi lokal, serta kepemimpinan berintegritas.
Kelima agenda tersebut, tegasnya, bukan sekedar menempatkan sejarah sebagai rekaman masa lampau, melainkan sumber pembelajaran untuk membangun kapasitas masyarakat. Melalui perpaduan pengetahuan, karakter, inovasi, kemandirian, dan kepemimpinan, kebangkitan peradaban diarahkan agar mampu menjawab tantangan zaman secara berkelanjutan.
Seminar yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kutai Kartanegara di Pendopo Wakil Bupati Kutai Kartanegara ini turut menghadirkan guru besar yang juga Rektor Unikarta Prof. Dr. Ir. Ince Raden, MP., yang mengantar acara ini. Hadir juga pakar pendidikan Islam Ust. H. Tasyrif Amin, M.Pd.I., Imam Nawawi, M.Pd.I., yang mewakili Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH. Naspi Arsyad, Lc., dan Dr. H. Abdul Majid Mahmud, SH, MH, akademisi dan dosen Universitas Kutai Kartanegara.
- Penulis: Kaltim News


