Seminar Nasional di Kukar, Tasyrif Amin Soroti Peran Ilmu dan Adab Menuju Indonesia Emas 2045
- account_circle Hilyatul Marfuah
- calendar_month Sabtu, 10 Okt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TENGGARONG — Kebangkitan bangsa tidak cukup ditopang kecerdasan intelektual dan kemajuan teknologi, tetapi membutuhkan sistem pendidikan yang mampu menyatukan ilmu pengetahuan, iman, dan adab. Gagasan tersebut ditegaskan pakar pendidikan Islam, Dr. H. Tasyrif Amin, M.Pd.I., dalam Seminar Nasional Peradaban Bangsa bertajuk “Menggali Akar Sejarah Peradaban Menuju Kebangkitan Bangsa” pada Jumat (9/10/2026).
Menurut Tasyrif, pendidikan adalah landasan strategi untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Menurutnya, cita-cita kemerdekaan mengandung arah mendasar mengenai jati diri, visi kehidupan, dan tujuan perjuangan bangsa yang bertumpu pada nilai keimanan, adab, persatuan, demokrasi, dan keadilan.
Dalam kerangka pembentukan manusia, ia membedakan proses iqra’ sebagai jalan memperoleh dan menyerap pengetahuan dengan tazkiyah sebagai proses penyucian jiwa yang menopang akhlak.
Dimensi kedua tersebut, menurut pemikirannya, perlu berjalan beriringan agar pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia berkemampuan intelektual tinggi, tetapi juga memiliki orientasi moral.
Mengutip pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas, Tasyrif menyoroti persoalan mendasar dalam krisis peradaban.
“Krisis peradaban bukan terutama kekurangan kecerdasan, ilmu, atau teknologi.Krisis muncul ketika ilmu terpisah dari wahyu, iman, dan adab,” nukil Tasyrif.
Ia memandang itu berisiko membuat kemampuan manusia kehilangan arah kemaslahatan. Ilmu yang diperlukan untuk memahami suatu permasalahan dan menentukan penyelesaiannya, sedangkan adab memberikan pedoman etis agar pengetahuan digunakan secara jujur dan bertanggung jawab.
Tasyrif menguraikan dua risiko pendidikan yang tidak seimbang. “Orang baik tanpa ilmu: Niatnya dapat benar, tetapi kapasitasnya terbatas untuk menyelesaikan persoalan besar,” sedangkan “Orang pintar tanpa adab: kemampuannya besar, tetapi arah kegunaannya dapat merugikan”.
“Bukan sekedar Ilmu, karena ilmu tanpa adab adalah kemajuan tanpa arah. Bukan sekedar adab, karena adab tanpa ilmu adalah kebaikan tanpa daya,” terangnya.
Untuk menyampaikan pesan tersebut, Tasyrif menekankan pentingnya ekosistem karakter pendidikan yang terhubung melalui empat lingkungan utama, yaitu keluarga, sekolah, masyarakat, dan masjid.
Menurutnya, integrasi keempatnya menjadi landasan untuk membentuk generasi yang berilmu, berintegritas, dan produktif, sekaligus siap mengambil tanggung jawab dalam pembangunan bangsa menuju tahun 2045.
Seminar yang dihadiri oleh Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kutai Kartanegara di Pendopo Wakil Bupati Kutai Kartanegara ini turut menghadirkan guru besar yang juga Rektor Unikarta Prof. Dr. Ir. Ince Raden, MP yang mengantarkan acara ini.
Hadir juga narasumber pengajar dan dosen Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Tenggarong Dr. H. Abdul Majid Mahmud, SH, MH, dosen Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (Uinsi) Samarinda Dr Mubarok, dan Imam Nawawi, M.Pd.I., yang mewakili Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH. Naspi Arsyad, Lc.
- Penulis: Hilyatul Marfuah
- Editor: Asri Yusuf


