Rektor Unikarta Dorong Tindak Lanjut Seminar Peradaban Bangsa Hidayatullah
- account_circle Kaltim News
- calendar_month Sabtu, 10 Okt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TENGGARONG — Rektor Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), Prof.Dr.Ir. Ince Raden, MP, mendorong agar Seminar Nasional Peradaban Bangsa yang diselenggarakan DPD Hidayatullah Kutai Kartanegara tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi dilanjutkan dengan langkah-langkah konkret.
Harapan tersebut disampaikannya dalam seminar bertajuk “Menggali Akar Sejarah Peradaban Menuju Kebangkitan Bangsa” di Pendopo Wakil Bupati Kutai Kartanegara, Jumat (9/10/2026).
Dia memandang, tindaklanjut sebagai bagian penting dari penyelenggaraan forum ilmiah. Menurutnya, gagasan yang dibahas perlu dikembangkan menjadi kegiatan pembelajaran, kolaborasi, dan pengabdian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Seminar tersebut mengangkat pentingnya membaca perubahan zaman melalui pengetahuan sejarah dan mengubahnya menjadi tindakan.
Prof Ince Raden menilai bahwa kegiatan akademik semacam ini dapat membuka ruang bagi pengembangan gagasan menjadi program yang terukur dan melibatkan berbagai pihak.
Tindak lanjut yang konkrit diharapkan Prof Ince dapat membagikan pembahasan akademik dengan kontribusi nyata bagi masyarakat dan perjalanan Indonesia menuju 2045.
Melalui seminar ini, DPD Hidayatullah Kutai Kartanegara mengangkat sejarah sebagai landasan untuk memahami perubahan dan membekali generasi muda menghadapi tantangan masa depan.
Membaca Realitas Zaman

Sementara itu, dalam sambutan yang mewakili Ketua Umum DPP Hidayatullah, Imam Nawawi menekankan bahwa generasi muda perlu memahami tantangan pada masanya agar mampu menentukan respons yang tepat.
“Seminar adalah cara kita sadar akan kenyataan zaman, membaca dan meresponsnya dengan kesadaran ilmu dan gerakan,” kata Imam Nawawi.
Ia mengaitkan kesadaran sejarah dengan pengalaman perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bung Karno dan Bung Hatta menjadi contoh tokoh yang membaca realitas kolonialisme, mengembangkan pemikiran, dan mengambil langkah strategis untuk mewujudkan kemerdekaan.
“Tantangan generasi sekarang memang berbeda dari masa perjuangan kemerdekaan. Namun, kesadaran kebangsaan, kapasitas intelektual, dan keberanian mengambil peran tetap dibutuhkan untuk menentukan arah masa depan Indonesia,” imbuhnya.
Orientasi itu berkaitan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menggunakan pengetahuan untuk memahami persoalan bangsa, menyusun gagasan, dan menghasilkan kontribusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
- Penulis: Kaltim News


