Neni Moerniaeni Dorong Kampung REDAM Perkuat Pencegahan Konflik
- account_circle Kaltim News
- calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BONTANG, KALTIM.NEWS — Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu diantisipasi di tengah kehidupan masyarakat, salah satunya konflik pertanahan yang berpotensi memicu sengketa.
Penegasan tersebut disampaikan saat membuka Rapat Koordinasi Pembentukan Tim Gugus Tugas Kampung Rekonsiliasi dan Perdamaian (REDAM) di Kantor Utama Wali Kota Bontang, Kamis (6/8/2026).
Forum tersebut menjadi langkah awal Pemerintah Kota Bontang dalam memperkuat sistem deteksi dini terhadap potensi konflik sekaligus membangun budaya dialog, rekonsiliasi, dan penyelesaian persoalan secara damai di tengah masyarakat yang majemuk.
Rapat dihadiri Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia Kalimantan Timur Umi Laili, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Bontang Deddy Haryanto, serta jajaran perangkat daerah. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan diharapkan memperkuat sinergi dalam menjaga stabilitas sosial di daerah.
Dalam sambutannya, Neni menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Kota Bontang sebagai salah satu lokasi pembentukan Kampung REDAM. Menurutnya, rekonsiliasi merupakan pendekatan penting dalam menyelesaikan berbagai perbedaan melalui dialog, musyawarah, dan semangat kebersamaan.
Bangun Komunikasi Persuasif dan Solutif
Pada kesempatan itu Neni juga mengingat pengalaman pemerintah daerah saat menyelesaikan persoalan pembangunan rumah ibadah beberapa tahun lalu. Berbagai perbedaan yang muncul ketika itu dapat diselesaikan melalui komunikasi persuasif dan solusi yang mengakomodasi kepentingan seluruh pihak tanpa menimbulkan konflik berkepanjangan.
Kelurahan Kanaan dipilih sebagai lokasi Kampung REDAM karena memiliki keberagaman suku, agama, dan budaya, serta pernah menghadapi dinamika sosial yang berhasil diselesaikan melalui komunikasi yang baik. Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal penting dalam membangun model rekonsiliasi berbasis masyarakat.
Neni berharap Tim Gugus Tugas Kampung REDAM mampu menjadi garda terdepan dalam mengenali potensi konflik sejak dini sekaligus menghadirkan solusi sebelum persoalan berkembang lebih luas.
Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan motto Kota Bontang, yakni Tertib, Agamis, Mandiri, Aman, dan Nyaman. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, aparat, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen warga menjadi fondasi utama dalam mewujudkan Bontang yang damai, harmonis, dan tetap kondusif.
- Penulis: Kaltim News


