Breaking News
light_mode

Integritas Moral dan Kedaulatan Intelektual dalam Menghadapi Krisis Peradaban

  • account_circle Nuraini
  • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KALTIM.NEWS — Direktur Progressive Studies and Empowerment Center (Prospect), Imam Nawawi, menekankan pentingnya integrasi antara moralitas dan intelektualitas bagi generasi muda Muslim dalam menghadapi dinamika global yang kian kompleks.

Hal tersebut disampaikan dalam acara Kalam Peradaban #1 bertajuk Membaca Peta Peradaban dan Peran Strategis Intelektual Muda Muslim dalam Dinamika Global yang diselenggarakan oleh Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) Kalimantan Timur pada Selasa malam (7/4/2026).

Imam Nawawi menggarisbawahi bahwa dalam tradisi Islam, kapasitas keilmuan seseorang tidak dapat dipisahkan dari standar moral yang dimilikinya. Ia menegaskan bahwa jika seseorang jatuh secara moral atau mengabaikan aspek tersebut, maka sisi keilmuan dan gagasannya tidak lagi dapat dijadikan rujukan, kecuali pada hal-hal yang bersifat duniawiah semata.

Imam Nawawi kemudian merefleksikan kondisi sejarah dengan membandingkan situasi saat ini dengan era Imam Al-Ghazali. Imam mencatat adanya kemiripan di mana kaum intelektual terjebak dalam upaya mengejar sertifikasi formal tanpa memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Menurutnya, banyak ilmu yang dikembangkan saat ini tidak memberikan manfaat bagi kehidupan sosial.

Mengambil teladan dari Imam Al-Ghazali, Imam menceritakan bagaimana tokoh besar tersebut rela meninggalkan jabatan prestisiusnya sebagai Rektor Universitas Nizamiyah demi melakukan pendalaman spiritual melalui tasawuf.

“Langkah Imam Al-Ghazali tersebut membuahkan mahakarya Ihya Ulumuddin, yang memiliki dampak historis luar biasa. Dan, lima puluh tahun setelah kitab tersebut ditulis, lahirlah sosok Salahuddin Al-Ayyubi yang mampu membebaskan Palestina. Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran intelektual yang didasari oleh kedalaman spiritual dan integritas mampu melahirkan perubahan peradaban yang besar di masa depan,” kata Imam.

Beralih pada realitas kontemporer, Imam Nawawi menyoroti tantangan yang dihadapi pemuda di tengah krisis global. Dia memandang bahwa situasi krisis sebenarnya adalah peluang besar bagi kaum muda untuk bersinar dan memberikan arti bagi peradaban. Imam menyebut krisis sebagai sarana penempaan orang-orang besar.

Ia mengingatkan para mahasiswa bahwa mereka adalah calon pemimpin masa depan di berbagai level, sehingga kesadaran akan tanggung jawab sejarah harus dipupuk sejak dini.

Tantangan Kecerdasan Buatan

Salah satu tantangan paling krusial yang dibahas Imam adalah disrupsi teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau AI. Imam Nawawi memaparkan salah satu riset terbaru mengenai apa yang disebut dengan performance learning paradox, di mana penggunaan teknologi yang berlebihan justru mendangkalkan kemampuan berpikir.

Riset itu membandingkan kelompok mahasiswa yang menggunakan teknologi tersebut dengan yang tidak. Meskipun hasil tulisan pengguna teknologi terlihat sempurna secara teknis, mereka gagal menjelaskan isi pemikirannya sendiri dalam presentasi. Sebaliknya, mereka yang mengandalkan akal pikiran mampu menguasai substansi meskipun secara teknis mungkin terdapat kekurangan.

Fenomena ini, menurut Imam Nawawi, menghadirkan ketidakpastian intelektual bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, dia menyerukan tindakan nyata melalui gerakan Iqra’ Bismirabbik.

Imam memaknai perintah membaca ini dalam dua dimensi penting. Pertama, membaca secara epistemik, yakni proses membaca yang substansial seperti nelayan yang pulang membawa hasil tangkapan. Kedua, membaca untuk menjawab permasalahan zaman agar intelektual muda selalu terdorong untuk menemukan solusi atas tantangan hari ini.

Imam Nawawi juga menekankan bahwa hal yang paling mematikan bagi anak muda adalah hilangnya tekad untuk memberi arti bagi agama. Dia mendorong peserta untuk memasang tekad kuat karena dengan menolong agama Allah, maka Allah akan memberikan pertolongan-Nya.

“Tanpa kemauan untuk membaca dan berpikir secara mendalam, generasi muda akan terseret dalam gelombang ketidakpastian global yang tidak menentu,” tegasnya.

Acara ini turut dihadiri narasumber CEO-founder Mosfeed Gia Josie, Ketua GMH Kalimantan Timur Wira Saguna, dan dimoderatori oleh Zufar Qosim Arrais. Acara ini diharapkan mampu memicu kesadaran kolektif mahasiswa untuk kembali pada kedaulatan intelektual yang berakar pada nilai-nilai moral Islam.

  • Penulis: Nuraini
  • Editor: Syakir Maarif

Rekomendasi Untuk Anda

  • Air dan Sanitasi untuk Negeri, BMH Hadirkan Sumur Bor untuk Warga Sesulu Penajam

    Air dan Sanitasi untuk Negeri, BMH Hadirkan Sumur Bor untuk Warga Sesulu Penajam

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
    • account_circle Kaltim News
    • 0Komentar

    KALTIM.NEWS — Keterbatasan akses air bersih masih menjadi tantangan bagi warga Desa Sesulu, Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara. Dalam keseharian, masyarakat harus bergantung pada sumber air yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan ibadah maupun aktivitas rumah tangga. Kondisi tersebut mendorong hadirnya solusi melalui program Air dan Sanitasi untuk Negeri yang diinisiasi oleh BMH. Melalui program […]

  • Rahasia Anissa Aziza Menjaga Kesehatan Keluarga Saat Perjalanan

    Rahasia Anissa Aziza Menjaga Kesehatan Keluarga Saat Perjalanan

    • calendar_month Rabu, 19 Feb 2025
    • account_circle Parentnial
    • 0Komentar

    Country Manager iNova Pharmaceuticals Indonesia Benyamin Wuisan, Brand Manager Wound Care Fitria Dewi Astari, tokoh publik Anissa Aziza, dokter sekaligus edukator kesehatan dr. Gia Pratama, dalam acara Media Gathering bertajuk Sambut Ramadan Tanpa Khawatir dengan Antiseptik Luka Povidone-Iodine Agar Mudik #TanpaDrama di Daun Muda, Menteng, Jakarta, Rabu, 19 Februari 2025 (Foto: Adam Sukiman/ Parentnial) MUDIK […]

  • Bupati Berau Apresiasi Peran KKSS dalam Memperkuat Kebersamaan Masyarakat

    Bupati Berau Apresiasi Peran KKSS dalam Memperkuat Kebersamaan Masyarakat

    • calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
    • account_circle Ahmad Djajadi
    • 0Komentar

    KALTIM.NEWS — Bupati Berau Sri Juniarsih Mas menyampaikan bahwa keberadaan paguyuban seperti Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan sosial di tengah keberagaman masyarakat Kabupaten Berau. Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri kegiatan buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh paguyuban KKSS di Balai Mufakat pada Selasa (8/3/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari […]

  • Kutip Makna ‘Tabrak-tabrak Masuk’, Abdul Quddus Ajak Pemuda Ambil Inisiatif Gerakan

    Kutip Makna ‘Tabrak-tabrak Masuk’, Abdul Quddus Ajak Pemuda Ambil Inisiatif Gerakan

    • calendar_month Minggu, 24 Nov 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    SAMARINDA — Pemuda memiliki peran strategis dalam membentuk peradaban dan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Kesadaran akan pentingnya peran ini diangkat dalam sambutan Ketua Departemen Organisasi dan Pengembangan Jaringan Pengurus Wilayah (PW) Pemuda Hidayatullah Kalimantan Timur, Abdul Quddus Surtam, dalam rangkaian Rapat Kerja Daerah (Rakerda) gabungan Pemuda Hidayatullah Samarinda dan Kutai Kartanegara.  Acara ini berlangsung […]

  • Ketua KKSS Bontang Berikan Tali Asih kepada Orang Tua Juara Lomba Al-Qur’an

    Ketua KKSS Bontang Berikan Tali Asih kepada Orang Tua Juara Lomba Al-Qur’an

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Kaltim News
    • 0Komentar

    KALTIM.NEWS — Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan Kota Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, menyerahkan tali asih kepada orang tua siswa yang meraih juara pertama, kedua, dan ketiga dalam lomba keagamaan yang digelar selama Ramadan. Penyerahan tersebut dilakukan sebagai bentuk apresiasi atas peran keluarga dalam membimbing anak-anak untuk mengenal dan mencintai Al-Qur’an sejak usia dini. Kegiatan […]

  • Jejak Langkah dan Cahaya di Eye of Jakarta photo_camera 6

    Jejak Langkah dan Cahaya di Eye of Jakarta

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Abdul Aziz
    • 0Komentar

    IBNU Batutah pernah menulis, “Bepergian itu membuat Anda tidak bisa berkata-kata, kemudian mengubah Anda menjadi seorang pendongeng.” Catatan sejarah menunjukkan bahwa pengelana Muslim abad ke-14 tersebut melakukan perjalanan lintas wilayah selama puluhan tahun dengan semangat Al-Rihlah fi talab al-‘ilmi, perjalanan untuk memperoleh ilmu. Perjalanan 2025 menghadirkan berbagai destinasi dan tujuan dokumentasi visual. Setiap lokasi menghasilkan […]

expand_less