Dosen Unmul Teliti Kolaborasi Heksa Helix dalam Pengembangan Ekowisata Pesisir
- account_circle Kaltim News
- calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KALTIM.NEWS — Dosen Universitas Mulawarman (Unmul) melakukan penelitian atas dukungan hibah BIMA 2026 yang mengkaji pengembangan komunitas ekowisata pesisir di Kota Bontang dan Kabupaten Berau.
Penelitian tersebut memperoleh pendanaan melalui Program Hibah BIMA 2026 yang dikelola oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
BIMA merupakan singkatan dari Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, yaitu platform resmi yang memfasilitasi proses pengusulan, seleksi, pendanaan, hingga pelaporan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui skema ini, pemerintah mendorong lahirnya riset yang berkualitas, inovatif, serta memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penyelesaian berbagai persoalan di masyarakat.
Penelitian yang dipimpin Ainun Ni’matu Rohmah, S.Sos., M.M., dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unmul tersebut menitikberatkan pada relasi antaraktor dalam model kolaborasi heksa helix yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, media, dan organisasi nonpemerintah sebagai bagian dari upaya memahami pola komunikasi dalam pengembangan pariwisata berbasis komunitas.
Riset yang dilaksanakan bersama tim peneliti lintas disiplin itu berangkat dari hasil penelitian sebelumnya yang menemukan masih adanya program pemberdayaan masyarakat yang berpotensi menimbulkan ketergantungan terhadap pihak luar.
Berdasarkan temuan tersebut, penelitian kali ini diarahkan untuk mengidentifikasi sejauh mana komunikasi dialogis mampu membuka ruang partisipasi bagi seluruh pemangku kepentingan dalam proses pengambilan keputusan.
Ainun menjelaskan bahwa kualitas dialog menjadi salah satu aspek penting dalam membangun kolaborasi yang berkelanjutan. Menurutnya, proses komunikasi yang berlangsung belum tentu sepenuhnya memberikan kesempatan yang setara bagi setiap pihak untuk menyampaikan kebutuhan maupun aspirasinya.
“Bisa jadi yang selama ini dianggap dialog ternyata belum benar-benar dialog. Ada suara yang tidak tersampaikan dan kebutuhan masyarakat yang belum sepenuhnya terakomodasi,” ujarnya Ainun seperti dinukil media ini dari laman resmi Unmul.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD) di Kota Bontang serta Kabupaten Berau. Forum tersebut mempertemukan unsur pemerintah, pelaku usaha, perusahaan, media, organisasi nonpemerintah (NGO), dan masyarakat untuk membahas berbagai aspek pengembangan pariwisata berkelanjutan di kawasan pesisir.
Selain mengkaji pola komunikasi antarpemangku kepentingan, penelitian ini juga menyoroti isu keberlanjutan lingkungan, termasuk pengelolaan sampah di destinasi wisata pesisir. Tim peneliti mencatat adanya peningkatan kesadaran dari masyarakat dan berbagai pihak dalam menjaga kelestarian lingkungan seiring berkembangnya aktivitas pariwisata.
Ainun berharap hasil penelitian tersebut dapat menjadi referensi bagi para pemangku kepentingan dalam memperkuat pola kolaborasi yang lebih inklusif pada sektor ekowisata.
“Kuncinya adalah saling berdiskusi dan saling mendengarkan agar pengembangan pariwisata dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat,” pungkasnya.
- Penulis: Kaltim News



