Hizbullah AS Tekankan Quantum Leap dan Orkestrasi Potensi Organisasi
- account_circle Nurul Mau'nah
- calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BALIKPAPAN, KALTIM.NEWS — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Timur Hizbullah AS menekankan pentingnya kemampuan organisasi melakukan quantum leap, mengorkestrasi berbagai potensi, serta memobilisasi sumber daya untuk menerjemahkan narasi besar gerakan menjadi strategi yang mampu menjawab tantangan zaman.
Pesan tersebut disampaikan dia dalam Forum Arahan Ketua Umum DPP Hidayatullah bertajuk “Dari Kota Kelahiran Menuju Gerakan Mendunia: Meneguhkan Arah Gerakan, Memperkuat Kaderisasi, dan Membangun Peradaban” di Aula Hidayatullah Karangbugis, Sabtu (1/8/2026).
Forum dihadiri jajaran pimpinan Hidayatullah Kalimantan Timur, para ketua lembaga, tokoh senior, Pengurus Pemuda Hidayatullah Kaltim, Muslimah Hidayatullah Balikpapan, serta perwakilan DEMA Putra dan Putri STIS Hidayatullah Balikpapan.
Hizbullah menyampaikan penekanan tersebut ketika forum membahas karakter Generasi Z dan kebutuhan organisasi merespons perubahan generasi. Ketua Yayasan Hidayatullah Karangbugis Haji Abdul Mali Najamuddin sebelumnya menyoroti generasi yang memiliki standar dan ekspektasi tinggi, sementara umpan balik yang diterima terkadang belum sebanding dengan harapan tersebut.
Dalam konteks itu, kemampuan organisasi mengelola berbagai potensi menjadi bagian penting dari pembahasan. Perubahan, sebagaimana disampaikan dalam forum, tidak hanya membutuhkan strategi, tetapi juga mentalitas perjuangan.
Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Narspi Arsyad mengingatkan kembali semangat pendiri Hidayatullah, Abdullah Said, yang tidak terikat zona nyaman. Menurutnya, tantangan kader saat ini bukan semata keterbatasan fasilitas, melainkan keberanian untuk bergerak lebih luas.
Penguatan kapasitas tersebut juga diarahkan kepada STIS Hidayatullah Balikpapan. Ketua Umum DPP Hidayatullah menegaskan kampus perlu menjadi ruang lahirnya gagasan, bukan sekadar tempat berlangsungnya proses akademik. Produktivitas karya ilmiah dan budaya diskusi publik dinilai Naspi masih perlu diperkuat agar sivitas akademika mampu keluar dari pola pikir in the box dan menghadirkan gagasan out of the box.
Ketua DPD Hidayatullah Balikpapan Muhammad Nasir sebelumnya memaparkan lima konteks dakwah peradaban Hidayatullah, yakni mencetak kader, melahirkan lingkungan Islami, membangun tradisi berpikir, melahirkan institusi dakwah, dan memberikan pengaruh di tengah masyarakat.
Dalam arahannya, Ketua Umum DPP Hidayatullah juga mengingatkan pentingnya keteladanan dalam pembinaan generasi. “Jika sebuah wadah tidak diisi dengan air yang jernih, maka lambat laun akan terisi oleh air yang keruh,” katanya.
Hidayatullah yang telah dikenal masyarakat kemudian menghadapi tantangan memperluas pengaruh melalui dua pendekatan, yakni secara kuantitatif dengan memperluas jangkauan dan pemerataan dakwah, serta secara kualitatif melalui penguatan kompetensi sumber daya manusia.
Di penghujung forum, peserta diajak memperkuat interaksi, budaya literasi, dan performa organisasi. Balikpapan disebut sebagai show window Hidayatullah yang perlu menampilkan wajah terbaik organisasi.
Ketua Umum DPP Hidayatullah menegaskan forum tersebut tidak boleh berhenti sebagai ruang bertemu atau menyampaikan wacana. “Forum ini tidak boleh hanya menjadi tempat bertemu, menyampaikan wacana, atau mengeluhkan persoalan, tetapi melahirkan kesepakatan dan kesepahaman,” katanya.
- Penulis: Nurul Mau'nah
- Editor: Liyana Zahirah


