Breaking News
light_mode

Jejak Para Pemimpin, Kenangan untuk Indonesia Kita

  • account_circle Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, M.M
  • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

 

Oleh Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, M.M (Ketua Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan Kalimantan Timur)

SEBUAH foto kadang bukan sekadar gambar. Ia bisa menjadi pintu untuk kembali membuka lembaran sejarah yang pernah kita lalui.

Foto kenangan tahun 1998 ini memperlihatkan dua tokoh besar bangsa yang pernah berada di puncak kepemimpinan Indonesia: Presiden Soeharto dan Presiden B.J. Habibie. Sebuah potret yang hari ini, setelah perjalanan waktu hampir tiga dekade, terasa semakin memiliki makna.

Tahun 1998 adalah tahun yang sangat penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Setelah memimpin Indonesia selama lebih kurang 32 tahun, Presiden Soeharto menyatakan berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia pada 21 Mei 1998. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Wakil Presiden B.J. Habibie.

Peristiwa itu menandai berakhirnya sebuah era sekaligus membuka pintu bagi era baru, yaitu: Reformasi.

Namun, sejarah tidak pernah sesederhana hitam dan putih.

Ada masa ketika Indonesia berada dalam kondisi ekonomi yang sangat sulit. Ada masa ketika pembangunan harus dimulai dari berbagai keterbatasan. Pada masa pemerintahan Soeharto, pembangunan nasional dijalankan melalui program-program jangka panjang, termasuk Repelita. Stabilitas, pembangunan dan pemerataan menjadi bagian penting dari kebijakan pemerintah selama lebih dari tiga dekade.

Karena peran besarnya dalam pembangunan nasional, Soeharto dikenal luas dengan sebutan “Bapak Pembangunan.” Program pembangunan yang dijalankan pada masa itu antara lain berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, pengembangan pertanian dan penurunan angka kemiskinan.

Tentu, perjalanan sejarah itu tidak sepenuhnya tanpa persoalan. Pemerintahan Orde Baru juga meninggalkan catatan tentang pembatasan kebebasan politik, persoalan hak asasi manusia, dan berbagai kontroversi yang sampai sekarang masih menjadi bagian dari perdebatan sejarah bangsa.

Karena itu, mengenang seorang tokoh sejarah tidak harus berarti menutup mata terhadap kekurangannya.

Justru kedewasaan dalam memahami sejarah adalah kemampuan untuk melihat seseorang secara utuh: menghargai jasa-jasanya, mengakui keberhasilannya, sekaligus belajar dari kekeliruan yang pernah terjadi.

Setiap pemimpin adalah bagian dari zamannya. Dan setiap zaman meninggalkan pelajaran bagi generasi sesudahnya.

Bagi saya, foto ini memiliki kenangan yang jauh lebih pribadi.

Pada tahun 1980, saya mendapat kesempatan menjadi bagian dari Mahasiswa Teladan Seluruh Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, untuk pertama kalinya saya bersalaman dengan Presiden Soeharto.
Bagi seorang mahasiswa pada masa itu, pengalaman tersebut tentu bukan sesuatu yang mudah dilupakan. Bersalaman dengan seorang kepala negara yang sedang memimpin Indonesia memberikan kesan tersendiri. Ada rasa bangga, haru, sekaligus kesadaran bahwa kita sedang berhadapan dengan seseorang yang menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa.

Waktu terus berjalan.

Seseorang yang dahulu kita lihat sebagai pemimpin negara, kini tinggal kenangan. Begitu pula dengan Presiden B.J. Habibie. Beliau telah berpulang. Para pemimpin datang dan pergi. Pemerintahan berganti. Kebijakan berubah. Zaman bergerak.

Tetapi Indonesia tetap ada.

Indonesia yang kita cintai ini dibangun melalui perjalanan panjang. Ada keringat para petani. Ada perjuangan para guru. Ada pengabdian para prajurit. Ada kerja keras para pegawai negeri. Ada perjuangan para pengusaha, nelayan, buruh, mahasiswa, ulama, ilmuwan, seniman, dan seluruh rakyat Indonesia.

Dan di atas semua itu, ada jasa para pemimpin bangsa yang telah menjalankan amanahnya pada zamannya masing-masing.

Karena itu, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada para pendahulu bangsa.

Terima kasih kepada Bung Karno dan Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia.

Terima kasih kepada Presiden Soeharto yang telah memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade dan meletakkan banyak fondasi pembangunan nasional.

Terima kasih kepada Presiden B.J. Habibie yang mengambil tanggung jawab kepemimpinan pada masa transisi yang sangat berat dan menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan menuju era Reformasi.

Terima kasih kepada seluruh Presiden Republik Indonesia setelahnya yang telah memberikan warna, gagasan, kebijakan dan pengabdian masing-masing untuk negeri ini.

Dan tentu saja, terima kasih kepada seluruh pahlawan dan pejuang bangsa—baik yang namanya tercatat dalam buku sejarah maupun mereka yang gugur tanpa pernah dikenal oleh generasi setelahnya.

Mereka mungkin telah tiada, tetapi Indonesia yang kita nikmati hari ini adalah bagian dari warisan perjuangan mereka.

Kita boleh berbeda pilihan politik. Kita boleh berbeda cara memandang sejarah. Kita boleh berbeda dalam menilai seorang pemimpin.

Tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita kehilangan rasa hormat kepada perjalanan bangsa sendiri.

Sejarah bukan untuk dipuja secara membabi buta.

Sejarah juga bukan untuk dihapus karena tidak sesuai dengan selera kita.

Sejarah adalah guru.

Dari keberhasilan para pemimpin, kita belajar bagaimana sebuah bangsa dapat dibangun.

Dari kekurangan dan kesalahan mereka, kita belajar agar tidak mengulanginya.

Dari pergantian kekuasaan, kita belajar bahwa tidak ada jabatan yang abadi.

Dan dari kepergian para pemimpin, kita belajar bahwa pada akhirnya setiap manusia akan meninggalkan dunia ini dan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya kepada Allah SWT.

Kini, memasuki peringatan 81 tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, marilah kita berhenti sejenak untuk menundukkan kepala dan mengenang perjalanan panjang negeri ini.

Dari masa perjuangan kemerdekaan, masa pembangunan, masa krisis, Reformasi, hingga Indonesia hari ini, semuanya adalah bagian dari satu perjalanan besar bernama Indonesia.

Indonesia kita.

Indonesia bukan milik satu kelompok.
Indonesia bukan milik satu generasi.
Indonesia bukan pula milik satu partai atau satu golongan.
Indonesia adalah milik kita semua.

Karena itu, tugas generasi sekarang bukan sekadar mengenang para pendahulu. Tugas kita adalah melanjutkan perjuangan mereka dengan cara kita sendiri: menjaga persatuan, menegakkan keadilan, meningkatkan kualitas pendidikan, membangun ekonomi yang kuat, memberantas korupsi, menghormati perbedaan, dan memastikan bahwa kemajuan benar-benar dirasakan seluruh rakyat.

Semoga Allah SWT mengampuni segala kekhilafan para pemimpin dan pejuang bangsa yang telah mendahului kita, menerima amal kebajikan mereka, serta menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya.

Selamat jalan para pendahulu bangsa.

Jasamu mungkin tidak seluruhnya sempurna. Perjalananmu mungkin tidak seluruhnya tanpa kekurangan. Tetapi engkau telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Indonesia.

Terima kasih Bung Karno.
Terima kasih Bung Hatta.
Terima kasih Pak Harto.
Terima kasih Pak B.J. Habibie.

Terima kasih seluruh Presiden Republik Indonesia.
Terima kasih para pahlawan dan pejuang bangsa.

Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik bagi mereka yang telah berpulang.

Dan kepada kami yang masih diberi kesempatan hidup, semoga Allah memberikan kekuatan untuk meneruskan perjuangan membangun Indonesia yang lebih berdaulat, lebih adil, lebih makmur, lebih bermartabat, dan lebih sejahtera.

Dirgahayu ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Indonesia Berdaulat.
Indonesia Adil.
Indonesia Makmur.

Indonesia Kita.

  • Penulis: Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, M.M

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sarung Samarinda Terus Berkembang Lewat Inovasi Motif dan Wastra Modern

    Sarung Samarinda Terus Berkembang Lewat Inovasi Motif dan Wastra Modern

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Ahmad Djajadi
    • 0Komentar

    MEDAN, KALTIM.NEWS — Sarung Samarinda kini terus berkembang melalui lahirnya beragam motif baru, di antaranya motif Pakis serta motif Mahakarya Tetua yang merepresentasikan penghormatan terhadap kearifan lokal dan warisan leluhur. Pengembangan tersebut menjadi salah satu fokus Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Samarinda dalam menjaga keberlanjutan wastra khas daerah sekaligus memperkuat daya saing industri kreatif […]

  • Hizbullah AS Tekankan Quantum Leap dan Orkestrasi Potensi Organisasi

    Hizbullah AS Tekankan Quantum Leap dan Orkestrasi Potensi Organisasi

    • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
    • account_circle Nurul Mau'nah
    • 0Komentar

    BALIKPAPAN, KALTIM.NEWS — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Timur Hizbullah AS menekankan pentingnya kemampuan organisasi melakukan quantum leap, mengorkestrasi berbagai potensi, serta memobilisasi sumber daya untuk menerjemahkan narasi besar gerakan menjadi strategi yang mampu menjawab tantangan zaman. Pesan tersebut disampaikan dia dalam Forum Arahan Ketua Umum DPP Hidayatullah bertajuk “Dari Kota Kelahiran Menuju […]

  • Dies Natalis ke-42 Unikarta Tegaskan Kampus sebagai Ruang Pelestarian Budaya Lokal

    Dies Natalis ke-42 Unikarta Tegaskan Kampus sebagai Ruang Pelestarian Budaya Lokal

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle Kaltim News
    • 0Komentar

    KALTIM.NEWS — Dies Natalis ke-42 Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Tenggarong menegaskan komitmen kampus sebagai ruang pelestarian budaya sekaligus wadah mempererat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan berbagai cabang olahraga tradisional yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan hari jadi universitas dengan mengusung tema “Optimalisasi Budaya Lokal Menuju Kejayaan Nusantara”. Dua cabang […]

  • Bupati Sebut HUT ke-24 PPU Jadi Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Daerah
    PPU

    Bupati Sebut HUT ke-24 PPU Jadi Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Daerah

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Kahar Muzakkir
    • 0Komentar

    KALTIM.NEWS — Bupati Penajam Paser Utara Mudyat Noor menyampaikan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun ke-24 Kabupaten Penajam Paser Utara pada tahun ini menjadi momentum refleksi atas satu tahun masa kepemimpinan yang ia emban. Dalam kesempatan tersebut ia juga mengajak masyarakat untuk terus mendorong pembangunan daerah melalui semangat gotong royong serta partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. […]

  • Keterlibatan Aktif Perangkat Daerah Kunci Keberhasilan SIKN dan JIKN

    Keterlibatan Aktif Perangkat Daerah Kunci Keberhasilan SIKN dan JIKN

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle Kaltim News
    • 0Komentar

    KALTIM.NEWS — Keterlibatan aktif seluruh perangkat daerah sebagai pencipta arsip menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan penyelenggaraan Sistem Informasi Kearsipan Nasional (SIKN) dan Jaringan Informasi Kearsipan Nasional (JIKN), sehingga tersedia konten arsip yang berkualitas, autentik, terpercaya, serta siap diakses masyarakat luas. Demikian ditegaskan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Kalimantan Timur, Lisa Hasliana, saat […]

  • Jelang Lebaran, Pemkot Balikpapan Imbau Masyarakat Lapor Jika Temukan Produk Tidak Layak Edar

    Jelang Lebaran, Pemkot Balikpapan Imbau Masyarakat Lapor Jika Temukan Produk Tidak Layak Edar

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Rizal
    • 0Komentar

    KALTIM.NEWS — Penjabat Sekretaris Daerah Balikpapan Agus Budi Prasetyo mengimbau masyarakat untuk berperan aktif melaporkan kepada Satgas Pangan Polda Kalimantan Timur apabila menemukan produk yang tidak layak edar. Ia juga menyampaikan bahwa apabila dalam pengawasan ditemukan produk UMKM yang belum memiliki izin seperti Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), maka produk tersebut akan diminta untuk ditarik […]

expand_less