Sektor Pertanian dan Industri Pengolahan Tunjukkan Pertumbuhan di Paser
- account_circle Kaltim News
- calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KALTIM.NEWS — Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Paser Bayu Agung Prasetyo mengulas kondisi ekonomi daerah yang menunjukkan adanya pergeseran dari sektor ekstraktif menuju sektor sekunder. Ia menjelaskan bahwa ketergantungan Kabupaten Paser terhadap sektor pertambangan mengalami penurunan secara bertahap setiap tahun, dari sebelumnya sekitar 61,00 persen menjadi 54,89 persen. Di sisi lain, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan serta industri pengolahan menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.
Paparan tersebut disampaikan Bayu Agung Prasetyo saat bertemu dengan Bupati Paser dr. Fahmi Fadli di ruang kerja Bupati di Lou Bepekat pada Rabu (4/3/2026). Pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan bagi BPS Kabupaten Paser untuk menyampaikan rencana pelaksanaan Sensus Nasional yang dijadwalkan berlangsung pada Mei hingga Juli 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Bayu menjelaskan bahwa perekonomian Kabupaten Paser tetap menunjukkan perkembangan yang stabil. Ia menyampaikan bahwa kondisi ekonomi pada tahun 2026 diperkirakan tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.
“Pertumbuhan ekonomi saat ini berada di angka 3,61 persen,” jelas Bayu Agung Prasetyo.
Ia juga menyampaikan bahwa perbandingan data ekonomi dua tahun terakhir menunjukkan kondisi ekonomi daerah yang relatif stabil. Menurutnya, stabilitas tersebut menjadi dasar bagi proyeksi kondisi ekonomi Kabupaten Paser pada tahun berjalan.
Selain menjelaskan pertumbuhan ekonomi, Bayu juga menyampaikan perkembangan struktur ekonomi daerah yang menunjukkan perubahan komposisi sektor-sektor utama. Ketergantungan pada sektor pertambangan secara bertahap mengalami penurunan, sementara sektor-sektor lain menunjukkan kontribusi yang semakin meningkat.
Menurutnya, peningkatan peran sektor pertanian, kehutanan dan perikanan serta industri pengolahan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan struktur ekonomi tersebut.
Bayu juga menjelaskan bahwa pola aktivitas ekonomi masyarakat mengalami penyesuaian yang mencakup berbagai sektor kebutuhan, mulai dari kebutuhan primer, sekunder hingga tersier. Ia menyebut bahwa perkembangan transaksi melalui belanja daring turut memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya pada kelompok Rumah Tangga Konsumen yang melakukan kegiatan konsumsi barang dan jasa.
Dalam pertemuan tersebut, BPS Kabupaten Paser juga menyampaikan sejumlah indikator pembangunan yang menunjukkan perkembangan pada beberapa sektor. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tercatat meningkat dari 75,13 pada tahun 2024 menjadi 75,85 pada tahun 2025.
Selain itu, Indeks Rasio Gini tercatat mengalami perubahan dari 0,271 menjadi 0,273. Data tersebut disampaikan sebagai bagian dari indikator yang menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Bayu juga menyampaikan bahwa capaian tersebut didukung oleh penurunan tingkat kemiskinan di Kabupaten Paser. Persentase penduduk miskin tercatat turun dari 8,63 persen menjadi 8,13 persen.
Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Paser berada pada angka 4,62 persen. Angka tersebut berada di bawah rata-rata tingkat pengangguran terbuka Provinsi Kalimantan Timur yang tercatat sebesar 5,18 persen.
- Penulis: Kaltim News





